Guru Kaidah 7-38-55

Memulai hari ini dengan sedikit gugup karena bangun agak kesiangan dari alarm yang sudah di setting malam sebelumnya. Benar saja situasi beginilah yang kerap membuatku kurang apik dalam memulai hari. Situasi seperti ini juga membuat aku kurang bijak saat menghadapi tantangan harian khususnya saat mendampingi Revan. Pokoknya bawaanya mudah kesal dehh kalau ada yang sedikit tidak sesuai harapan. 

Dan saat-saat begini pun kadang Revan justru banyak menunjukan perilaku yang bikin Bundanya harus banyak bicara. Mulai dari terasa sulit untuk diajak kerja sama menyelesaikan rutinitas pagi hingga polah kreatif yang menurut bundanya tidak tepat waktu. Perasaan yang tidak nyaman saat memulai hari, berpengaruh cukup besar bagiku dalam bersikap saat menghadapi tantangan harian. Kerap kali aku mudah sekali terpancing emosi, saking tergesa dan merasa dikejar waktu aku sering berkomunikasi dengan mengabaikan pola-pola komunikasi produktif seperti yang sedang aku pelajari dalam kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional. 

Menyadari komunikasi yang tidak baik ini, aku mengambil waktu untuk menenangkan diri sejenak. Aku minum teh bersama Ayahnya Revan, sambil mengungkapkan perasaanku. Alhamdulillah Ayah Revan termasuk pendengar yang baik saat aku seperti ini. Lalu aku meminta pertimbangan beliau, dan meminta saran dari beliau untuk memperbaiki sikapku saat menghadapi Revan. Aku merasa lebih tenang saat beliau mulai memberikan arahan dan masukkan. Sebetulnya kami punya FOR (Frame Of Reference) yang berbeda, tapi justru aku merasa justru perbedaan inilah yang membuat kami bisa berjalan seimbang. 

Saat sudah menemukan ketenangan, aku segera memperbaiki pola komunikasiku. Aku terus melatih diri dalam berkomunikasi yang produktif dengan Revan. Aku berusaha menerapkan kaidah 7-38-55 seperti yang dituliskan dalam materi kelas bunda sayang. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap 
Aspek verbal hanya memberikan dampak sekitar 7% terhadap hasil komunikasi, sedangkan komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). Dengan pemahaman itu aku mencoba memegang kendali atas emosiku. Saat aku harus menyampaikan pesan pada Revan, aku akan datang dengan lembut dan bicara dengan intonasi yang ramah. Revan ternyata sangat sensitif dan pemerhati yang teliti atas sikap-sikap ku, dia bisa saja dengan mudah menangkap pesan marah, kesal atau emosi negatif saat aku bicara padanya. Maafkan bunda mu yaa anakku...ijinkan bunda memperbaiki diri yaa sayang...

Lalu hari berjalan lebih ringan dan menyenangkan setelah aku bisa keluar dari situasi yang tidak menyenangkan tersebut. Hingga tibalah saatnya kami melaksanakan sholat Maghrib, Revan yang lagi suka banget belajar jadi imam sholat selalu mengajukan diri untuk menjadi imam sholat ku. Karena aku tidak mau mematahkan semangatnya, maka aku selalu memilih untuk mempersilahkan dia mbertindak menjadi imam. Walaupun pada pelaksanaanya aku niat sholat sendiri, tapi dia akan berdiri di depanku layaknya sebagai imam sholat. Dan mal ini selesai sholat, tiba-tiba dia mendekati saya dan bicara " bunda Revan pengen menjelaskan sesuatu yaa, tapi bunda jangan marah oke?" Dia mencoba membuat kesepakatan sebelum menyampaikan pesan kepadaku. Lalu aku pun setuju dengan kesepakatan itu, dan dia melanjutkan untuk menyampaikan pesannya "maaf yaa bunda, tadi saat sholat aku terkena najis, aku kentut tapi karena aku khawatir ketinggalan sholat jadi aku lanjutkan saja sholatku. Maafin Revan bunda" ucapnya sambil memelukku. Masya Allah aku terharu dengan cara dia menyampaikan kejujuran, bagiku dia lebih pandai dalam menerapkan kaidah 7-38-55. Yaa dialah guru kecil yang Allah hadirkan untukku. Alhamdulillah terima kasih anakku...

Komentar